Kamis, 14 April 2011

Mari Belajar Recover


Kita adalah perilaku kita. Sebagian besar orang setuju dengan pernyataan ini. Sedangkan perilaku kita adalah hasil belajar sebagian orang juga setuju dengan pernyataan yang ini. Kalau kita mau merubah diri kita berarti kita sebaiknya belajar merubah perilaku kebiasaan kita. ..Nah pernyataan ketiga ini yang paling sedikit yang setuju. Maunya sih dunia yang berubah mengikuti kita. hehehehe.... Umumnya addict resisten ama yang namanya perubahan.


Setidaknya ada tiga metoda sederhana belajar perilaku yang baru  buat recovering addict untuk merubah dirinya menjadi lebih baik :

1. REFLEKSI
Cara yang pertama adalah dengan me-refleksikan apa yang ada dipikiran dan perasaan. Merupakan cara yang paling mulia dalam merubah diri kita. Lewat proses merenung dulu dan butuh nalar yang lumayan canggih. Biasanya perubahannya juga pas dengan kebutuhan karakter yang bersangkutan.

2. IMITASI
Cara yang kedua adalah dengan meniru (imitating). Merupakan cara yang paling mudah sepertinya asal mau aja. Apa sih susahnya niru? Cari Role model yang paling pas terus perhatiin dan kalau perlu tanya-tanya sedikit tentang motif perilakunya. Terus tiru deh. Kalau ada yang kurang pas tinggal modifikasi dikit. Bahayanya kalau salah pilih role model. Ingat role model juga manusia.

3. PENGALAMAN
Cara yang ketiga adalah dengan mengalaminya sendiri. Bisa jadi cara yang paling pahit untuk seorang recovering addict untuk belajar perilaku yang baru. Mau tahu caranya bangkit dari relapse harus mengalami relapse dulu, kadang berkali-kali. Cape ga  sih loe? Mending kalau kita doang yang susah. Sering orang lain juga ikut susah. Anak, istri, suami, pacar, orang tua, kakak, adik, tetangga, saudara, tukang warung sebelah,....dst..

Sederhana kan? Mau pilih yang mana ? Anehnya banyak addict yang bilang sama dirinya sendiri bahwa, " nanti kalau sudah waktunya juga berhenti sendiri kayanya...." Coba deh buktiin !!

Selasa, 12 April 2011

Re-actualisasi and Relapse

Menurut teori pendekatan "Humanistic" semua orang butuh mengaktualisasikan dirinya. Dalam program terapi dan rehabilitasi seringkali sulit mengaktualisasikan diri akibat conditioning dengan aturan-aturan yang ada. Oleh karena itu individu berusaha mengaktualisasikan dirinya setiap ada kesempatan. Setiap jenjang fase pasti terjadi reaktualisasi. Itu semua wajar saja terjadi dan tidak ada yang salah.

Setelah keluar program terapi (paska rehabilitasi) aktualisasi  terjadi dan sering kali jelas terlihat pada individu yangbaru keluar rehab. Seperti tanpa kenal lelah padahal orang lain yang melihatnya mungkin sudah lelah. Ingin rambut model gitu, ingin baju kaya si itu, ingin punya pacar yang kaya gitu, ingin hebat seperti si anu, ingin punya barang yang kaya gitu, dsb.... Hal -hal seperti itu yang sebenarnya wajar jadi tidak wajar kalau ingin didapat secara instant tanpa proses yang seharusnya dijalankan oleh banyak orang.

 
Kenyataannya proses re actualisasi sering tidak pas dengan si individu yang bersangkutan. Hasilnya akan menjadi sebuah beban dan tekanan yang harus dihadapi oleh yang bersangkutan. Personality addict yang umumnya "border-line" bermasalah dengan hal seperti itu. Jadi cara paling mudah ya dengan menjalankan proses aktualisasi yang bertahap dan cari jati diri yang "pas" untuk  dirinya masing-masing. Karena setiap individu itu unik. Role modeling bukan berarti "imitating" itu jelas harus dipahami.

Minggu, 10 April 2011

Relapse is a Part Recovery Process

Recovery adalah program sepanjang hidup yang akan dijalani oleh pecandu yang sedang pulih (recovering addict). Merupakan proses belajar untuk mencapai perubahan perilaku yang baru. Recovery sebagai sebuah proses mengalami dinamikanya sendiri. Relapse merupakan bagian  dari dinamika belajar dalam recovery. 

Kekambuhan bukan hal kegagalan total dari sebuah program recovery. Hanya clean-time yang hilang, bukan knowledge yang pernah didapat oleh seorang recovering addict. Artinya tidak harus memulai dari Nol lagi. Meskipun ada beberapa hal yang harus dikaji ulang dalam program belajar yang pernah dijalankan. Untuk itu perlu dibuat sebuah evaluasi untuk mencari pencetus terjadinya kekambuhan.  dan mustahil mengulang cara yang sama untuk mengharapkan hasil yang berbeda tentunya.

Memberikan hukuman bagi seeorang recovering addict yang relapse justru hanya akan memunculkan rasa enggan untuk meminta pertolongan. Perasaan jera tidak membantu bagi addict, karena kita semua tahu bahwa umumnya addict adalah tipikal pengambil resiko (high risk taker). Tidak ada satupun addict yang  dengan sadar merencanakan kekambuhannya. Saat kekambuhan (slip/initial lapse) terjadi biasa diikuti dengan perasaan menyesal, marah, gagal, dsb.Hal ini yang seringkali membuat serang addict gagal kembali bangkit pada program pemulihannya.    

Untuk itu diperlukan suatu resillience pada recovering addict dalam menjalani kehidupan nyata. Artinya recovering addict mampu segera bangkit dan keluar dari masalah-masalah yang dihadapinya di kehidupan nyata. Dan jika  terjadi kekambuhan ia akan segera  mampu bangkit kepada program pemulihannya.





Addiction is Brain Disease

Addiction (Adiksi/Kecanduan) adalah murni gejala penyakit. Dimana fungsi receptor syaraf di otak terjadi ketidakseimbangan(chemical imblance). Menggunakan Napza (Psychoactive Drugs) hanyalah salah satu cara instant (short cut) untuk mencapai keseimbangan yang diinginkan oleh seorang individu.

Adiksi tidak ada hubungannya dengan moral atau agama. Adiksi bisa terjadi sama mereka yang tidak beragama atau yang beragama.Tidaklah cukup seorang pecandu berdoa untuk lepas dari kecanduannya dengan begitu saja. Begitu juga dengan menghukum seorang pecandu tidak akan menjamin dia tidak kembali menggunakan drugs (relapse/kambuh).

Oleh karena itu adiksi  harus diselesaikan lewat terapi (treatment) yang sesuai dengan permasalahannya. Karena setiap individu itu unik, maka sebaiknya cara yang digunakan memperhitungan hal itu (menghindari over generalisir).

Penelitian terakhir menemukan bahwa gangguan perilaku yang ada disebabkan oleh unsur genetik (kromosom dalam DNA). Perliaku yang berulang dan sudah menjadi kebiasaan sudah menjadi protein dalam DNA. Artinya suka tidak suka sebagian dari kita memang terlahir dengan bakat sebagai pecandu (addict). Hanya butuh faktor pencetus (trigger) untuk kemudian perilaku adiksi terjadi. Beberapa orang yang tidak "berbakat" sebagai pengguna bahkan bisa berhenti kapanpun setelah mencoba menggunakan drugs.

Untuk itu bagi mereka yang ternyata memiliki bakat genetik sebagai pecandu, sebaiknya memahami bahwa ada kebutuhan yang selama ini dipenuhi dengan cara menggunakan drugs. Namun cara lama yang digunakan sebenarnya bisa diganti dengan jalan lain yang lebih bisa diterima oleh norma-norma yang ada, seperti menyalurkan hobby, melakukan rekreasi, dsb.